Jakarta, Minggu 04/01/2026 – Varian Influenza A (H3N2) subclade K yang populer dijuluki super flu telah terdeteksi masuk ke Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) mengonfirmasi temuan tersebut berdasarkan hasil pemantauan rutin influenza nasional sejak 25 Desember 2025.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penyakit Menular Kemenkes, dr. Prima Yosephine, menyampaikan bahwa temuan ini dilaporkan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan sebagai bagian dari sistem surveilans nasional.
“Pada tanggal 25 Desember 2025, Balai Besar Laboratorium Kesehatan melaporkan telah ditemukan Influenza A (H3N2) clade 3C.2a1b.2a.2a.3a 1/K, atau yang dikenal dengan subclade K,” ujar dr. Prima.
Hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi. Tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur dengan 23 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus, dan Jawa Barat 10 kasus.
Sementara itu, Sumatera Selatan melaporkan lima kasus, serta masing-masing satu kasus ditemukan di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dari sisi demografi, mayoritas kasus terjadi pada perempuan, yakni sekitar 64,5 persen atau sekitar 40 kasus. Berdasarkan kelompok usia, anak-anak berusia 1 hingga 10 tahun menjadi kelompok dengan proporsi tertinggi, mencapai 35,5 persen. Disusul kelompok usia 21 hingga 30 tahun sebesar 21 persen, serta usia 11 hingga 20 tahun sebesar 19,4 persen.
Kelompok lanjut usia di atas 60 tahun, yang dikenal lebih rentan terhadap infeksi, tercatat menyumbang 8,1 persen dari total kasus.Meski demikian, Kemenkes menegaskan bahwa keberadaan subclade K di Indonesia tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza lainnya. Situasi influenza nasional hingga saat ini masih dinilai terkendali.
“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam tinggi, batuk, pilek, sakit kepala, kelelahan berat, dan sakit tenggorokan,” jelas dr. Prima, Kamis (1/1).
Apa Itu Super Flu?
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025. Hingga kini, varian tersebut dilaporkan telah beredar di lebih dari 80 negara.
Secara global, peningkatan kasus influenza A(H3) mulai terpantau di Amerika Serikat sejak minggu ke-40 tahun 2025, seiring masuknya musim dingin. Di kawasan Asia, subclade K telah ditemukan di sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak Juli 2025.
Peneliti senior Johns Hopkins Center for Health Security, Amesh A. Adalja, M.D., menjelaskan bahwa subclade K merupakan cabang mutasi terbaru dari virus Influenza A(H3N2) yang telah bersirkulasi selama puluhan tahun. Istilah super flu sendiri bukanlah istilah medis resmi, melainkan sebutan populer di masyarakat karena tingkat penularannya yang relatif tinggi.
Satu orang yang terinfeksi dilaporkan dapat menularkan virus kepada dua hingga tiga orang atau lebih di sekitarnya. Kenaikan kasus influenza pada akhir 2025 juga dipengaruhi oleh perubahan musim hujan, suhu yang lebih dingin, serta polusi udara yang mempercepat penularan infeksi saluran pernapasan.
Di Indonesia, hasil surveilans menunjukkan influenza A(H3) masih menjadi varian yang paling banyak ditemukan.
Sebagai langkah pencegahan, Kemenkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta.
Vaksin influenza dinilai tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat influenza. Selain itu, masyarakat juga diminta tetap berada di rumah saat mengalami gejala flu, menggunakan masker, serta menerapkan etika batuk dan bersin guna menekan penularan.(TP)










