Langkat,14 Mei 2025 – Orangutan ( Ponngo spp.) adalah spesies kera besar yang hidup di hutan hujan tropis di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia tepatnya di pulau Sumatra dan dan Kalimatan serta ada juga di negara tetangga Malaysia wilayah Sabah dan Sarawak. Di Indonesia sendiri ada tiga jenis Orangutan yaitu Orangutan Sumatra (Ponggoabelii), Orangutan Kalimatan (Ponggo pygmaeus), dan Orangutan Tapanuli (Ponggotapanuliensis). Setiap Orangutan memiliki ciri dan habitat yang berbeda-beda. Menurut (PP) No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Orangutan dikategorikan sebagai Satwa yang dilindungi. Sementara itu menurut IUCN (International Union Conservation of Nature) status konservasi Orangutan di Indonesia, khususnya di daerah Bukit Mas, Kabupaten Langkat dan di daerah Batang Toru dan sekitarnya masuk dalam kategori “critically endangered” yang artinya sangat terancam punah.
Beranjak dari kondisi tersebut Suhendra atau dalam kesehariannya akrab di sapa Krisna saat ini mengemban tugas untuk menyelamatkan Orangutan yang dalam kondisi terancam punah di dua Lokasi, yaitu, Orangutan Sumatra yang berhabitat di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) dan Orangutan Tapanuli yang ada di sekitar kawasan Taman Nasional Batang Toru.
Krisna lahir di dusun Wonosari desa Halaban kecamatan Besitang kabupaten Langkat pada tanggal 12 januari 1987. Meski tinggal di desa pinggir hutan, Krisna tidak berpikir akan bekerja didunia konservasi, hingga pada tahun 2008 Krisna bertemu OIC yang berkegiatan di desanya.

Pada saat itu lah Krisna kenal dengan dunia konservasi, Saat itu OIC (Orangutan Information Centre) datang kedusun tempat Krisna tinggal untuk mengerjakan Project Restorasi di TNGL tepatnya di resort Sei Betung.
Dalam keseharian Krisna menjadi akrab dan sering berinteriaksi dengan teman-teman yang bertugas memulihkan kawasan hutan yang telah terdegradasi. Krisna mengatakan dari kedekatan tersebut terutama dengan abang Ahmad Azhari (Ari) dan Mustaqim Malik (Taqim) inilah awal mula ia bersentuhan dan jatuh hati dengan dunia konservasi. Bisa dikatakan saudara Ari dan Taqim adalah guru pertama bagi Krisna. Krisna sangat banyak belajar dari mereka dan sampai saat ini hubungan baik itu masih terjaga dengan baik.
Pada awal tahun 2009 Krisna meminta sendiri untuk bergabung dengan tim Restorasi dan bertugas menanam dan merawat pohon di hutan TNGL bersama dengan anggota KETAPEL (Kelompok Tani Pelindung Leuser).
Saat ini suami dari Winda Muharani menjabat sebagai Manager HOCRU (Human-Orangutan Conflict Response Unit) di YOSL-OIC bertugas mengkoordinir 18 orang yang terbagi kedalam empat tim di dua Lansekap hutan Leuser dan Batang Toru, ada pun tim tersebuat berada daerah Langkat, Aceh Selatan, Kota Cane dan Batang Toru, bekerja 1 x 24 jam selalu sedia menanggapi setiap laporan dari masyarkat dan pemerintah prihal Orangutan. HOCRU sendiri memiliki tugas utama yaitu :
- Membantu Pemerintah dan masyarakat dalam upaya meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan akibat konflik antara manusia dan Orangutan dengan menyelenggarakan kegiatan monitoring Orangutan terisolir di Desa.
- Kegiatan penyadartahuan ditingkat Desa dan Sekolah dipinggir kawasan hutan,
- Dan kegiatan Rescue jika diperlukan bagi Orangutan yang terjebak dikebun masyarakat dan tidak bisa kembali ke kawasan hutan.
Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang Krisna emban dengan pengalaman hampir lima belas tahun di dunia konservasi, uang bukan semata – mata menjadi tujuan utama, bekerja di dunia konservasi lebih kepada panggilan jiwa. Bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan serta keahlian seakan menjadi guru yang tidak akan diperoleh di bangku sekolah, ditambah lagi mengunjungi tempat-tempat baru serta berinteraksi dengan masyarakat sekitar rmenjadi keasyikan tersendiri. Hal ini sejalan dengan motto hidup Krisna “pengalaman dan orang-orang baik yang saya temui adalah guru terbaik untuk saya belajar”.

Menjadi bagian dari tim HOCRU, Krisna yang pada tahun 2025 ini pernah mengikuti kegiatan Kursus Management Konservasi di Durrel AcedemyJersy Inggris,sudah pasti banyak suka duka yang dirasakan dalam menjalankan pekerjaan, jauh dari keluarga dan dicap sebagai orang yang lebih mementingkan hewan dari pada manusia sudah jadi makan sehari-hari. Meski pada dasarnya tim HOCRU hadir untuk kebaikan bersama antara manusia dan Orangutan itu sendiri. Belum lagi sebagian masyarakat yang tidak paham menganggap tim HOCRU adalah oarang yang paling bertanggung jawab atas konflik yang terjadi. Sementara suka yang di rasakan terlebih kepada rasa bangga terhadap diri sendiri karena mampu menjaga dan menyelamatkan satwa kunci, satwa endemic yang karismatik indonnesia.
Krisna mengatakan Orangutan secara tidak langsung sudah berjasa terhadap PAD Kabupaten Langkat, hal ini bisa terlihat dari sektor pariwisata yang ada di Bukit Lawang, selain keindahan sungai dan hutan TNGL, Orangutan juga menjadi daya tarik wisatawan baik lokal dan mancanegara untuk datang berkunjung. Hal ini harus sangat kita syukuri sebagai masyarakat Langkat sebab hampir seluruh destinasi wisata populer kabupaten Langkat yang ramai di kunjungi wisatawan mengandalkan hutan Leuser sebagai pendukung utama, seperti Tangkahan dengan Gajah Sumatranya, Pamah Semelir dengan udara sejuk dan pemandangan alamnya. Sementara itu keberadaan Orangutan adalah salah satu indikator bahwa hutan yang ada masih terjaga kelestrariannya.
Dan akhirnya Krisna mengharapkan masyarakat yang berada disekitar kawasan hutan bisa hidup secara harmonis berdampingan dengan satwa liar. Masyarakat harus menganggap Orangutan dan satwa liar adalah titipan sang pencipta yang akan kita warisakan kepada anak cucu kita. Jika sudah terlanjur terjadi konflik masyarakat hendaknya segara melaporkan kepada tim HOCRU atau kepada para petugas. Jangan mengambilk tindakan yang mengancam nyawa dari Orangutan dan satwa liar yang dilindungi sebab nantinya masyarakat bisa berhadapan dengan sangsi hukum.(ASA)










