Stabat,Rabu (04/02/2026) – Hampir di seluruh kawasan Kota Stabat, Kabupaten Langkat, deretan pohon Glodokan Tiang (Polyalthia longifolia) berdiri tegak menghiasi ruas-ruas jalan utama. Keberadaannya bukan sekadar elemen estetika, tetapi juga bagian dari strategi penghijauan kota yang dirancang untuk menciptakan lingkungan lebih sejuk, asri, dan ramah bagi masyarakat.
Glodokan Tiang dikenal sebagai salah satu jenis pohon evergreen atau hijau sepanjang tahun. Artinya, tanaman ini mampu tumbuh dan bertahan meski menghadapi perubahan cuaca dan iklim yang cukup ekstrem. Dengan karakter tumbuh lurus dan menjulang hingga mencapai ketinggian 30–35 meter, arsitektur alaminya yang ramping dan sedikit berkelok membuat pohon ini kerap dipilih sebagai tanaman peneduh dan penghias jalan perkotaan.

Namun, belakangan ini sebagian warga memperhatikan daun-daun glodokan yang tampak menguning dan layu. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan tanaman dan kualitas perawatannya. Menanggapi hal itu, Infowargalangkat mengonfirmasi langsung kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Langkat untuk mendapatkan penjelasan ilmiah sekaligus memastikan upaya perawatan yang telah dilakukan.

Penjelasan DLH Langkat
Petugas pertamanan DLH Langkat, Indra Ananta, menjelaskan bahwa penyiraman pohon-pohon di kawasan Kota Stabat dilakukan secara rutin dan terjadwal.
“Pagi mulai pukul 06.00 hingga 09.00, dan sore mulai pukul 18.00 hingga 19.00,” ujar Indra.
Selain penyiraman, pihak DLH juga melakukan pemupukan guna mempercepat pertumbuhan tunas-tunas baru dan menjaga daya tahan pohon terhadap tekanan lingkungan.
Terkait kondisi pohon di Jalan Sudirman yang terlihat paling menguning, Indra menuturkan bahwa penyebab utamanya adalah struktur tanah yang tertutup aspal.
“Tanah di sekitar pohon tidak tembus air karena tertutup aspal. Akibatnya terjadi penguapan yang sangat ekstrem, sehingga pohon mengalami stres dan daunnya tampak layu,” jelasnya.
Siklus Alami Glodokan Tiang
Secara ilmiah, gugurnya daun pada Glodokan Tiang bukan selalu pertanda kerusakan. Justru, hal tersebut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri tanaman untuk beradaptasi dengan lingkungan. Berikut beberapa alasan utama mengapa daun glodokan tiang rontok:
- Adaptasi Musim Kemarau – Pada awal musim kemarau umumnya antara Oktober hingga Maret,pohon akan menggugurkan sebagian daun untuk mengurangi proses transpirasi atau penguapan air. Dengan daun yang lebih sedikit, kebutuhan air dan energi menjadi lebih hemat.
- Regenerasi Daun (Peremajaan) – Setelah daun tua rontok, biasanya akan muncul tunas-tunas baru. Ini merupakan siklus alami untuk mengganti daun lama dengan daun muda yang lebih efektif dalam proses fotosintesis.
- Respon terhadap Lingkungan Perkotaan – Di kawasan urban, glodokan tiang terpapar polusi udara. Kerontokan daun membantu tanaman membuang daun yang telah jenuh polutan dan menggantinya dengan yang baru.
- Stres Lingkungan – Dalam kondisi kekeringan ekstrem atau suhu tinggi, pohon akan menggugurkan daun sebagai langkah bertahan hidup.
Upaya Berkelanjutan untuk Kota Hijau
DLH Langkat menegaskan bahwa perawatan Glodokan Tiang di Kota Stabat terus dilakukan secara berkelanjutan. Penyiraman rutin, pemupukan, serta pemantauan kondisi tanah menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kualitas ruang terbuka hijau.
Keberadaan Glodokan Tiang bukan hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga berperan penting dalam menyerap polusi, menurunkan suhu lingkungan, dan menciptakan suasana yang lebih nyaman bagi pengguna jalan. Dengan pemahaman yang tepat mengenai siklus alami tanaman ini, masyarakat diharapkan dapat melihat perubahan warna daun bukan sebagai masalah, melainkan sebagai proses biologis yang wajar dan logis dalam menjaga keseimbangan alam di tengah dinamika kota.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Kota Stabat diharapkan terus tumbuh sebagai kota hijau yang sehat, lestari, dan membanggakan.(TP)










