Langkat,Jum’at (16/01/2026) — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perekonomian nasional, khususnya bagi dunia usaha dan laju inflasi.
Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Aviliani, menegaskan nilai tukar rupiah idealnya tidak menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Menurutnya, jika batas psikologis tersebut terlampaui, dampaknya akan sangat berat bagi pelaku usaha di berbagai sektor.
“Kita berharap jangan sampai itu sampai Rp 17.000 atau lebih. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha,” ujar Aviliani dalam acara Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Aviliani menjelaskan, pelemahan rupiah akan secara langsung meningkatkan beban utang luar negeri perusahaan serta biaya impor. Hal ini dinilai krusial mengingat sekitar 70 persen industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.
Tekanan Rupiah Dinilai Sangat Kuat

Ia menyebut Bank Indonesia (BI) akan berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar rupiah tidak melemah terlalu dalam. Namun, tekanan terhadap rupiah saat ini dinilai cukup kuat, terutama akibat keluarnya dana investor asing dari pasar keuangan domestik.
“Kalau kita lihat dari data, investor asing dari SRBI keluar cukup banyak, hampir Rp 100 triliun. Kemudian dari SBN totalnya hampir Rp 122 triliun,” ungkapnya.
Dalam situasi tersebut, Aviliani berharap kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang akan diterapkan pemerintah mampu membantu menjaga cadangan devisa sekaligus menopang nilai tukar rupiah.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebijakan tersebut dengan ketersediaan likuiditas dolar di pasar.
“Kalau dolar mahal, itu juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuiditas dolar di pasar,” tegasnya.
Ancaman Inflasi Pangan dan Sektor Manufaktur
Lebih lanjut, Aviliani menilai dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pada komoditas kedelai, tetapi juga sektor lain yang sangat bergantung pada impor, terutama sektor manufaktur.
Selain itu, ia menyoroti potensi kenaikan inflasi pangan. Menurutnya, perhatian pemerintah selama ini masih banyak tertuju pada beras, padahal Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan lainnya.
“Ini juga akan berdampak pada inflasi pangan. Makanya nilai tukar perlu dijaga,” katanya.
Penjelasan BI Soal Pelemahan Rupiah
Sebelumnya, Bank Indonesia mengungkapkan peningkatan tekanan di pasar keuangan global menjadi salah satu faktor utama melemahnya rupiah terhadap dolar AS hingga mendekati level Rp 17.000.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, mengatakan tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik global, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Selain itu, meningkatnya kebutuhan valuta asing domestik pada awal tahun juga turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar.
“Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia,” ujar Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (13/1/2026).
Ia mencatat, rupiah ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026), atau terdepresiasi sebesar 1,04 persen secara year-to-date.(TP)










