Home / Opini / Perebutan Kursi Ketua DPD KNPI Langkat Memanas, Tiga Ketua PK Muncul sebagai Kandidat Kuat

Perebutan Kursi Ketua DPD KNPI Langkat Memanas, Tiga Ketua PK Muncul sebagai Kandidat Kuat

Langkat, Minggu (11/01/2026) – Dinamika politik kepemudaan di Kabupaten Langkat kian menghangat. Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kabupaten Langkat, tiga nama mencuat sebagai bakal calon kuat Ketua DPD KNPI Langkat. Ketiganya berasal dari tingkat Pimpinan Kecamatan (PK) KNPI dan dinilai memiliki basis dukungan serta rekam jejak organisasi yang solid.

Tiga figur tersebut adalah Wongso Sutowo, Ketua PK KNPI Kecamatan Babalan, M. A. Bahrum, Ketua PK KNPI Kecamatan Stabat, serta Ardiansyah Putra Ismail, Ketua PK KNPI Kecamatan Padang Tualang. Munculnya tiga nama ini menandai babak baru kontestasi KNPI Langkat yang disebut-sebut sebagai salah satu yang paling dinamis dalam beberapa tahun terakhir.

Suhu Politik Pemuda Mulai Naik

Sejumlah pengurus OKP dan aktivis pemuda di Langkat menilai perebutan kursi Ketua DPD KNPI kali ini tidak lagi bersifat seremonial. Persaingan berlangsung terbuka, penuh strategi, dan sarat gagasan. Hal ini terlihat dari mulai intensnya komunikasi politik antar-PK, konsolidasi internal OKP, hingga perbincangan hangat di berbagai forum kepemudaan.

“Musda KNPI kali ini terasa berbeda. Ada semangat perubahan dan regenerasi yang kuat,” ujar salah satu pengurus OKP di Langkat yang enggan disebutkan namanya.

Wongso Sutowo: Representasi Basis Pesisir dan Buruh

Nama Wongso Sutowo dikenal luas di wilayah pesisir Babalan. Sebagai Ketua PK KNPI Kecamatan Babalan, ia dinilai dekat dengan pemuda akar rumput, khususnya kalangan buruh dan pemuda pesisir. Wongso dianggap memiliki kemampuan membangun jaringan horizontal yang kuat serta pengalaman memimpin organisasi dalam kondisi sosial yang beragam.

Sejumlah pihak menyebut Wongso sebagai figur yang konsisten memperjuangkan isu kemandirian pemuda dan penguatan ekonomi lokal.

M. A. Bahrum: Kekuatan Ibu Kota Kabupaten

Sementara itu, M. A. Bahrum yang memimpin PK KNPI Kecamatan Stabat sebagai ibu kota Kabupaten Langkat dinilai memiliki keunggulan strategis. Stabat kerap disebut sebagai barometer politik dan organisasi di Langkat, sehingga figur yang lahir dari wilayah ini dianggap memiliki akses komunikasi yang lebih luas dengan berbagai elemen, baik pemerintahan maupun organisasi kepemudaan.

Bahrum dikenal aktif dalam kegiatan lintas organisasi serta memiliki pendekatan moderat yang diterima oleh banyak kalangan.

Ardiansyah Putra Ismail: Simbol Regenerasi dan Militansi Kader

Di sisi lain, Ardiansyah Putra Ismail dari PK KNPI Kecamatan Padang Tualang hadir sebagai simbol regenerasi. Ia disebut-sebut sebagai representasi pemuda dengan semangat militansi organisasi dan keberanian membawa gagasan baru untuk KNPI Langkat.

Ardiansyah dinilai aktif membangun kaderisasi di tingkat kecamatan dan mendorong KNPI agar kembali ke khitah sebagai rumah besar pemuda, bukan sekadar organisasi elit.

KNPI Langkat di Persimpangan Arah

Pengamat kepemudaan menilai, kontestasi ini menjadi momentum penting bagi KNPI Langkat untuk menentukan arah ke depan. Apakah KNPI akan tampil sebagai organisasi pemersatu pemuda yang progresif, kritis, dan mandiri, atau kembali terjebak dalam konflik internal yang melemahkan peran strategisnya.

“Persaingan ini justru positif, selama berjalan demokratis dan beretika. KNPI butuh pemimpin yang bukan hanya kuat secara dukungan, tetapi juga matang secara visi,” ujar seorang akademisi di Langkat.

Kontestasi Serius, Bukan Sekadar Formalitas

Berbeda dengan Musda sebelumnya yang cenderung berjalan normatif, perebutan kursi Ketua DPD KNPI Langkat kali ini dinilai jauh lebih serius. Konsolidasi antar-PK mulai terbaca, komunikasi lintas OKP semakin intens, dan arah dukungan mulai mengerucut. Situasi ini menunjukkan bahwa publik pemuda menginginkan perubahan nyata, bukan sekadar pergantian nama.

Publik Menanti Gagasan, Bukan Sekadar Figur

Seiring memanasnya suhu perebutan kursi Ketua DPD KNPI Langkat, publik pemuda kini menaruh harapan besar. Bukan hanya pada siapa yang menang, tetapi pada gagasan, keberanian, dan komitmen para bakal calon dalam memperjuangkan kepentingan pemuda Langkat secara nyata.

Musda KNPI Langkat diprediksi akan berlangsung sengit namun sarat pembelajaran demokrasi. Siapa pun yang terpilih, diharapkan mampu menyatukan energi pemuda dan menjadikan KNPI kembali relevan di tengah tantangan zaman.

KNPI Langkat di Titik Penentuan

Sejumlah pengamat menilai, Musda KNPI Langkat kali ini menjadi titik krusial. Organisasi ini dinilai berada di persimpangan jalan: antara bangkit menjadi kekuatan moral dan sosial pemuda, atau semakin kehilangan relevansi di tengah perubahan zaman.

Pertarungan Ini Akan Menentukan Sejarah

Musda KNPI Langkat bukan sekadar memilih ketua, tetapi menentukan apakah organisasi ini masih layak disebut rumah besar pemuda. Tiga nama bertarung, tetapi hanya satu yang akan diuji oleh sejarah.

Publik kini tidak lagi terpukau oleh baliho, manuver politik, atau klaim dukungan. Yang dinilai adalah siapa yang paling siap bekerja sejak hari pertama, menyatukan yang terbelah, dan mengembalikan KNPI ke jalur perjuangan pemuda.

KNPI butuh pemimpin, bukan penguasa. Butuh kerja, bukan janji.

Dan Musda kali ini akan menjadi jawabannya.(TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *