Home / Sains / Mengapa Ayam Jadi Unggas Paling Banyak Dikonsumsi di Dunia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Ayam Jadi Unggas Paling Banyak Dikonsumsi di Dunia? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Langkat,Minggu 04/01/2026 – Ayam menjadi salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Hampir di setiap negara, daging ayam hadir dalam berbagai olahan, mulai dari ayam goreng krispi ala Kentucky hingga ayam panggang sederhana dengan olesan mentega.

Di Amerika Serikat saja, rata-rata konsumsi ayam mencapai sekitar 45 kilogram per orang setiap tahun, menurut data Dewan Ayam Nasional. Tingginya angka konsumsi ini memunculkan pertanyaan menarik: mengapa manusia lebih memilih ayam dibandingkan unggas lain seperti merpati, angsa, atau burung lainnya?

Jawabannya ternyata berkaitan dengan sejarah, biologi, hingga kemudahan beternak.

Jejak Panjang Domestikasi Ayam

Sejarah konsumsi ayam oleh manusia telah berlangsung ribuan tahun. Naturalis Inggris Charles Darwin pernah mengemukakan bahwa ayam domestik berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus), berdasarkan kemiripan fisik dan kemampuannya untuk dijinakkan.

Penelitian genetik modern kemudian memperkaya temuan tersebut. Para ilmuwan menyimpulkan bahwa ayam domestik kemungkinan merupakan hasil hibrida beberapa spesies ayam hutan. Meski sebagian besar genomnya berasal dari ayam hutan merah, warna kulit kuning pada ayam modern diduga berasal dari ayam hutan abu-abu.

Para peneliti memperkirakan ayam pertama kali didomestikasi di kawasan Asia Selatan. Bukti arkeologis menunjukkan domestikasi ayam terjadi sekitar tahun 1650–1250 SM, dengan wilayah Lembah Indus sering disebut sebagai salah satu pusat awal penyebarannya.

Dari Adu Ayam hingga Meja Makan

Pada awalnya, ayam diduga lebih banyak dipelihara untuk keperluan adu ayam atau ritual budaya, bukan sebagai sumber pangan utama. Seiring waktu, fungsi ayam pun bergeser. Kekaisaran Romawi berperan besar dalam menyebarkan ayam dan telur sebagai bahan makanan ke berbagai wilayah Eropa.

Namun, ayam baru benar-benar menjadi makanan massal pada abad ke-20. Perang Dunia II, yang menyebabkan keterbatasan pasokan daging merah, mendorong masyarakat beralih ke ayam sebagai sumber protein yang lebih terjangkau dan mudah diproduksi.

Mudah Diternakkan dan Tidak Bisa Terbang

Salah satu alasan utama ayam unggul dibanding unggas lain adalah sifat biologisnya. Ayam relatif jinak, lambat, tidak bisa terbang jauh, dan mudah beradaptasi hidup di sekitar manusia. Hal ini membuat ayam sangat cocok untuk diternakkan dalam skala besar.

Sebaliknya, unggas lain seperti merpati dan angsa memiliki tantangan tersendiri. Merpati, misalnya, memerlukan perawatan intensif karena anaknya bergantung pada “susu tembolok” dari induknya selama hari-hari awal kehidupan. Proses reproduksinya pun tidak semudah ayam yang bisa dikembangkan dengan inseminasi buatan.

Burung merpati lebih sulit diternakkan dibanding ayam.

Angsa juga pernah populer di Eropa, bahkan menjadi hidangan favorit di kalangan bangsawan Inggris pada masa Raja Henry VIII dan Ratu Elizabeth I. Namun, daging angsa dianggap lebih sulit dimasak dan memiliki aroma amis yang kurang disukai banyak orang.

Kesimpulan

Singkatnya, ayam menjadi unggas paling banyak dikonsumsi di dunia karena mudah didomestikasi, cepat berkembang biak, efisien diternakkan, dan rasanya diterima oleh banyak budaya. Faktor sejarah dan kebiasaan masyarakat, termasuk tradisi adu ayam di masa lalu, turut mempercepat penyebaran ayam ke seluruh penjuru dunia.

Kini, ayam bukan sekadar unggas ternak, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola konsumsi manusia modern di berbagai belahan dunia.(TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *