Home / Berita / Nasional / Menyelidiki Spesies Asing Invasif di Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon

Menyelidiki Spesies Asing Invasif di Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon

Jawa Timur,Jumat, 2 Januari 2026 – Sekelompok peneliti dari Indonesia dan luar negeri meneliti dampak kehidupan spesies invasif di Taman Nasional Baluran di Jawa Timur dan Taman Nasional Ujung Kulon di Banten.

Yudi Setiawan, peneliti sekaligus kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Riset Internasional Lingkungan dan Perubahan Iklim (PPLH LRI LPI) IPB University, mengatakan riset ini mendapat hibah dari Asia-Pacific Network for Global Change Research.

Yudi menjelaskan bahwa riset ini bersifat multikolaboratif. “Riset ini melibatkan para peneliti dari IPB University, Kementerian Kehutanan, kampus luar negeri yang berasal dari Universiti Putra Malaysia, Universiti Teknologi Malaysia, University of Tokyo, ada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga,” rinci Yudi.

Riset ini berfokus pada kajian mengenai dinamika dan penyebaran spesies asing invasif (invasive alien species/IAS) di ekosistem khatulistiwa beserta relevansinya dengan perubahan iklim.

Pendekatan studi yang ditawarkan bersifat komprehensif melalui pengamatan in situ (di lokasi atau kawasan), penginderaan jauh dengan citra satelit, genomika, dan pemodelan matematika.

Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa saat ini spesies invasif mengancam keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan produktivitas di ekosistem khatulistiwa.

“Studi ini menyelidiki gangguan ekologis yang disebabkan oleh spesies invasif di dua kawasan keanekaragaman hayati penting di Indonesia, yaitu Taman Nasional Baluran dan Ujung Kulon,” kata Yudi seperti dikutip dari laman IPB University.

Di Baluran, invasi Vachellia nilotica yang berasal dari Afrika, atau juga dikenal dengan nama Acacia nilotica dan juga disebut pohon gom arab atau akasia berduri, telah mengubah struktur sabana asli.

Sementara itu di Ujung Kulon, Arenga obtusifolia membahayakan habitat mencari makan yang penting bagi badak Jawa yang terancam punah, jelas Yudi.

Riset ini mengusulkan kerangka kerja integratif untuk memprediksi dan mengelola dinamika spesies invasif di bawah perubahan iklim.

Proyek ini menggabungkan genomika untuk mendeteksi sifat adaptif, penginderaan jauh berbasis satelit untuk memetakan perubahan habitat, dan pemodelan mekanistik untuk memprediksi risiko invasi spasial-temporal.

Selain solusi spesifik lokasi, penelitian ini bertujuan memajukan kerja sama regional dengan mengembangkan solusi berbasis alam (nature-based solutions/NbS) bersama otoritas kawasan lindung dan pemangku kepentingan utama.

Proyek ini akan mengembangkan platform pemodelan risiko spesies invasif yang dapat direplikasi, memberikan informasi untuk sistem peringatan dini, dan memberikan panduan strategis yang selaras dengan jalur Invasive Alien Species (IAS) ASEAN dan target keanekaragaman hayati global pasca-2020.

Dengan menjembatani sains, teknologi, dan kebijakan, studi ini meningkatkan kapasitas regional untuk pencegahan dan pengendalian IAS, berkontribusi pada pencapaian SDGs 13 dan 15, dan menyajikan model baru untuk ketahanan ekologis lintas batas dalam menghadapi percepatan perubahan lingkungan.(TP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *