Langkat – Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Langkat (PB HIMALA) meminta Bupati Langkat untuk mengeluarkan surat edaran resmi terkait larangan perayaan pergantian tahun baru dengan penggunaan petasan, serta mengimbau seluruh kecamatan di Kabupaten Langkat agar melaksanakan kegiatan pergantian malam tahun baru dengan doa bersama.
Permintaan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian moral dan sosial PB HIMALA terhadap kondisi masyarakat Langkat yang baru saja dilanda bencana banjir, sekaligus sebagai upaya mendukung Visi Langkat Religius yang selama ini menjadi arah pembangunan daerah.
Sekretaris Jenderal PB HIMALA, Dimas Ginastian, S.H., menyampaikan apresiasi kepada Bupati Langkat beserta seluruh jajaran pemerintah daerah atas langkah-langkah penanggulangan bencana banjir yang dinilai telah dilakukan secara cepat, terkoordinasi, dan relatif optimal.
“Kami mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Langkat yang telah bekerja maksimal dalam penanganan bencana, mulai dari respons darurat hingga pemulihan awal. Upaya ini menunjukkan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat saat kondisi sulit,” ujar Dimas Ginastian, S.H.
Ia menegaskan bahwa permintaan penerbitan edaran larangan petasan dan imbauan doa bersama tersebut tidak dimaksudkan sebagai bentuk kritik, melainkan sebagai penguatan nilai dan arah kebijakan daerah pasca bencana.
“Langkat masih berada dalam fase pemulihan. Karena itu, perayaan pergantian tahun sebaiknya dimaknai secara lebih reflektif, sederhana, dan bermartabat, bukan dalam bentuk euforia yang berpotensi mengganggu ketertiban serta rasa aman masyarakat,” lanjutnya.
PB HIMALA menilai bahwa penggunaan petasan berpotensi menimbulkan gangguan keamanan, risiko keselamatan, serta kurang sejalan dengan nilai religius dan empati sosial, khususnya bagi warga yang masih terdampak banjir.Sebaliknya, PB HIMALA mendorong pemerintah daerah agar mengimbau setiap kecamatan, desa, dan kelurahan untuk memfasilitasi kegiatan doa bersama di masjid, rumah ibadah, dan ruang publik sebagai bentuk refleksi akhir tahun dan ikhtiar spiritual kolektif.
“Saatnya seluruh elemen masyarakat Langkat menahan diri, memperkuat solidaritas, dan bersama-sama berdoa demi keselamatan masyarakat Langkat ke depan. Doa bersama adalah simbol kebersamaan dan harapan agar Langkat senantiasa dijauhkan dari bencana,” tegas Dimas Ginastian, S.H.
PB HIMALA menegaskan bahwa imbauan ini bukan dimaksudkan untuk membatasi ruang ekspresi masyarakat, melainkan mengarahkan perayaan pergantian tahun agar lebih aman, tertib, dan bernilai sesuai kondisi objektif daerah serta visi pembangunan religius.
Ke depan, PB HIMALA menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Langkat, aparat kecamatan, serta elemen masyarakat dalam menjaga kondusivitas wilayah dan menyukseskan kegiatan doa bersama pada malam pergantian tahun.(TP)










