Langkat, Minggu (21/12/2025) – Satu bulan pasca bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, dan Aceh Tamiang, Aceh, upaya pemulihan masih terus berlangsung. Di tengah menurunnya perhatian publik, Himpunan Mahasiswa Langkat (HIMALA) tercatat sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa yang secara konsisten mengirimkan tim relawan ke wilayah terdampak.
Ketua Umum Pengurus Besar HIMALA, Muhammad Wahyu Hidayah, S.H., menyampaikan bahwa kehadiran relawan mahasiswa di lapangan merupakan bentuk tanggung jawab moral dan sosial, sekaligus implementasi nyata dari peran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
“Bencana tidak berhenti ketika sorotan publik mereda. Justru pada fase pasca bencana inilah masyarakat membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan. Konsistensi HIMALA mengirim tim relawan adalah bentuk komitmen organisasi, bukan sekadar respons sesaat,” ujar Muhammad Wahyu Hidayah, S.H.
Ia menjelaskan bahwa sejak hari-hari awal pasca banjir hingga memasuki satu bulan pemulihan, HIMALA secara bertahap mengirimkan relawan ke sejumlah titik terdampak di Langkat dan Aceh Tamiang. Para relawan terlibat langsung dalam distribusi bantuan, pembersihan lingkungan, pendampingan warga, serta pemetaan kebutuhan pasca bencana.
Menurutnya, keberlanjutan gerakan kemanusiaan menjadi aspek penting dalam memastikan proses recovery berjalan secara lebih manusiawi dan berkeadilan. HIMALA menilai bahwa peran mahasiswa tidak boleh berhenti pada aksi simbolik, melainkan harus berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
“Kehadiran kami bukan untuk mencari pengakuan, tetapi untuk memastikan masyarakat terdampak tidak ditinggalkan. Mahasiswa memiliki tanggung jawab sosial untuk tetap hadir ketika kondisi belum sepenuhnya pulih,” lanjutnya.
Sebagai bagian dari komitmen jangka menengah, HIMALA juga merencanakan pendirian sekolah darurat dan posko-posko kesehatan di wilayah terdampak banjir. Program ini ditujukan untuk mendampingi anak-anak yang mengalami putus sekolah pasca banjir, sekaligus merespons kondisi kesehatan masyarakat yang cenderung menurun akibat dampak lingkungan dan keterbatasan layanan kesehatan.
PB HIMALA menegaskan bahwa inisiatif tersebut merupakan bentuk intervensi sosial berbasis kebutuhan lapangan, dengan melibatkan relawan mahasiswa lintas disiplin, tenaga pendidik, serta tenaga kesehatan secara kolaboratif, guna memastikan pemulihan sumber daya manusia berjalan seiring dengan pemulihan fisik wilayah terdampak.
PB HIMALA juga menegaskan bahwa gerakan relawan yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran negara, melainkan sebagai bentuk dukungan dan pelengkap terhadap upaya pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak.
“Pemulihan pasca bencana adalah kerja kolektif. HIMALA mengambil posisi sebagai mitra sosial yang berupaya menjembatani kebutuhan masyarakat dengan berbagai pihak yang memiliki kewenangan dan sumber daya,” tegasnya.
Ke depan, HIMALA menyatakan komitmennya untuk terus melakukan pendampingan dan membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, lembaga kemanusiaan, serta elemen masyarakat lainnya demi memastikan proses pemulihan pasca banjir di Langkat dan Aceh Tamiang berjalan secara berkelanjutan.(TP)










